| Berteriaklah hai sang pemimpi, kita tak kan berhenti disini |
|
|
|
| Written by Aan Juanda |
| Saturday, 19 December 2009 12:58 |
|
Review Film : Sang Pemimpi
Ya… Film Sang Pemimpi, memang bercerita tentang mimpi , mimpi tiga pemuda Belitung untuk menjelajahi ilmu pengetahuan dan keluasan hidup, menjelajah dunia luar sampai Eropa. Semangat yang digelorakan oleh Pak Balia seorang guru sastra yang mampu menginspirasi ketiga pemuda (Arai, Ikal dan Jimbron). Mimpi yang coba terus dipertahankan ditengah kemiskinan hidup dan pencarian jati diri, tak hanya itu, film ini juga memberi ruang pada cinta remaja, cinta Arai kepada Zakia Nurmala, cinta Jimbron kepada Laksmi. Sisi menarik dari film Sang pemimpi adalah hubungan antara ayah dan Ikal, dan hubungan guru dan siswa. Peran Pak Mustar sebagai tokoh kepala sekolah yang kaku dan penerapan penghukuman dalam mendidik (dimainkan oleh Landung Simatupang) bertolak belakang dengan Peran Pak Balia yang memberi kebebasan sepenuhnya para siswa untuk mengekspresikan mimpi mereka. (dimainkan dengan apik oleh Nugie) kontradisi karakter ini cukup memberi warna dan dan enak ditonton Penampilan Nazril Ilham (Ariel Peterpen) sebagai Arai dewasa, bisa jadi sebagai upaya menaikkan nilai jual film, yang pasti banyak penonton penasaran dengan aksi Ariel memerankan Arai. Untungnya Ariel tak harus terpelesat dan mampu memerankan dengan cukup baik saat harus beradu acting dengan Lukman Sardi yang memerankan Ikal Dewasa. Sisi kurang nyaman bagi saya adalah Ariel nampak terlalu tua untuk memerankan Arai yang baru lulus Sarjana. Beberapa bintang lokal Belitung juga apik menjalankan perannya,coba perhatikan pemeran tokoh Laksmi, meskipun tidak pernah bicara sepanjang film, mampu dengan penjiwaan yang pas memerankan sebagai gadis yatim piatu yang pendiam, tidak pernah tersenyum, dan kesepian. Bahasa tubuhnya mampu menyampaikan pesan itu. Adegan berboncengan dengan sepeda antara Jimbron dan Laksmi sesaat setelah mengantar Arai dan Ikal menuju Jakarta, hanya sepintas, adegan dimana kamera mengambil mengambil gerak kaki Laksmi yang membonceng dan melanjutkana arah kamera sepintas ke wajah Laksmi yang begitu natural, sederhana…, tapi adegan ini mampu membuat saya berkaca-kaca, cinta yang sederhana itu kadang jadi sangat indah. Catatan lain adalah Pemeran Arai (remaja) juga baik dimainkan oleh Rendy Ahmad, sangat pas, optimis, tak pernah mengeluh, penuh mimpi dan selalu tersenyum. Secara keseluruhan film ini mirip dengan Laskar Pelangi, dari sudut pengambilan gambar, cara menjelaskan cerita dengan bernarasi, sampai ke musik latarnya. Dari sisi cerita, film ini lebih kuat dari Laskar Pelangi, lebih banyak hal yang ingin disampaikan. Kalau ada yang bisa dikritisi adalah, meski mampu menguras emosi, tapi Sang pemimpi kurang menawarkan adegan kejutan yang bisa membuat kita tersenyum. Selain itu, film ini ritmenya datar, bahkan dibeberapa adegan berkesan lambat. Tapi menutup dari semua kekurangan itu, Film ini sangat Indonesia, dan memberi pesan yang sangat bagus bagi ramaja Indonesia. Berteriaklah hai sang pemimpi, Selamat mononton |



Kembali Riri Riza & Mira Lesmana menunjukkan ke piawaiannya dalam membesut Novel Sang Pemimpi menjadi sebuah tontonan film yang menawan. Novel setebal 288 halaman ini mampu dipindahkan ke layar film menjadi tontonan berdurasi selama 128 menit tanpa kehilangan ruh semangat berjuang pantang menyerah seperti pesan kuat yang disampaikan dalam Novelnya. Meskipun Salman Aristo, Riri Reza dan Mira Lesmana sang penulis film melakukan penyesuaian terhadap Novel Sang Pemimpi , tapi penyesuaian ini tampak mencoba tidak mengubah terlalu banyak dari apa yang sudah ditulis Andrea. Pada novel nya kekuatan semangat tidak mudah menyerah, hadir hampir di setiap lembar yang kita baca, pada film nya, Mira Lesmana nampak berusaha untuk menghadirkan lebih kuat lagi, sisi keteguhan mimpi.
Comments
Mungkin sequel Laskar Pelangi adalah Film Indonesia yg terbaik yg pernah aku tonton
RSS feed for comments to this post.