| Sedep Kalongan di Sudut Jakarta |
|
|
|
| Written by Aan Juanda |
| Tuesday, 15 December 2009 14:31 |
|
Mongggo mampir di rumah makan ‘Tauto Pekalongan Nino’ di daerah Tebet depan Pasar PSPT Jakarta Selatan. Bangunan rumah makannya tidak terlalu besar, tapi begitu anda masuk kedalam, suasana Pekalongan akan sangat terasa. Pernik-pernik khas Pekalongan seperti memuaskan kerinduan akan kota batik di Pantai Utara Jawa ini. Dari Becak Pekalongan yang terparkir di pojok ruang, peta Pekalongan, serta Lambang kota Pekalongan ditata apik. Foto-foto yang menjadi penanda kota juga menghiasi dinding, kabar kegitan ‘ OPEK’ (Organisasi Orang Pekalongan) di Jakarta ada terpampang, tidak ketinggalan Poster dan kegiatan ‘ASKARLO’ (Organisasi Alumni SMA 1 Kartini Pekalongan) juga ada disini.
Lukman Bilfaqih (alumni SMA Negeri Pekalongan) dan Aisyah Hussein pemilik Rumah makan ini, adalah orang Pekalongan asli, sehingga wajar kalau sentuhan Pekalonganya sangat terasa. Tetamupun didominasi oleh orang-orang Pekalongan, atau paling tidak punya keterikatan batin dengan kota di pesisir utara dengan luasan 45 Km2 ini. Maka tidak perlu terkejut jika anda berwisata kuliner di sini, para tamu berbicara dialek jawa yang sangat khas, dialek Pekalongan, kosa kata macam “Kokuwe”, “Jebule”, “tak dangkai”, kadang sesekali terdengar. Ya makan di Rumah Makan Pak Luqman suasananya serasa makan di rumah makan di Depan PPIP Pekalongan, alun-alun kota, atau Warung Soto lain di Pekalongan, atau bahkan di rumah - rumah kita sendiri di mBendan, Ndukuh atau Klego sana. Menurut Lukman, pengunjung Tauto Nino ini sebagian besar adalah warga Pekalongan, pada awal dibuka konon 80 % pengunjung adalah orang Pekalongan, dan 20 % adalah orang bukan Pekalongan, namun saat ini persentasenya berkisar 65 % Orang Pekalongan dan 35 % bukan Pekalongan, ini mengembirakan baginya, artinya makanan Pekalongan ternyata tidak hanya digemari oleh orang Pekalongan. Ini sesuai keinginan Pak Lukman untuk semakin meletakkan kekayaan kuliner Pekalongan di mozaik besar kuliner Indonesia. Jika anda orang Pekalongan, atau Alumni sekolah di Pekalongan, tak perlu ragu menunjukkan identitas sebagai orang Pekalongan, dengan senang hati Pemilik rumah makan menyediakan buku tamu khusus yang bisa anda isi jika anda berkenan, dan mengajak anda bercerita tentang kota Pekalongan tanpa anda harus kehilangan privasi sebagai tamu. “Sudah ribuan orang Pekalongan tercatat dalam buku tamu saya”, begitu ujar Pak Lukman tersenyum. Kalaupun anda bukan orang Pekalongan, juga tidak perlu ragu datang dan mencicipi masakan khas kota Batik ini, masakan yang rasanya kuat dengan bermacam bumbu, dari tauto, megono, pecak cucut, sayur asem, tempe mendoan, sampai yang umum didapat di banyak rumah makan seperti ayam goreng dan ayam bakar. Masakan Pekalongan agak berbeda dengan masakan jawa model Jogja atau Solo yang biasanya cenderung manis, masakan Pekalongan lebih kaya rasa, lantaran lebih kayanya jenis rempah yang dimasukkan dalam bumbu makanan, sehingga makan di rumah makan Pekalongan ini, tentu akan memberikan pengalaman kuliner yang berbeda dibanding masakan jawa tengah pada umumnya . Soal rasa ?, jangan ditanya…, Mak Nyusss…., Makanan andalannya tentu Soto Pekalongan yang lebih dikenal dengan nama ‘tauto’yaitu soto daging sapi denga taucho Pekalongan, berkuah coklat.disajikan hangat, dengan uap yang masih mengepul, tercium harum yang sangat khas, harum khas yang membedakan dengan soto-soto dari wilayah Indonesia lainnya. Harum yang sangat khas itu, sangat dikenal dan dirindukan oleh orang Pekalongan.Ya.... harum taucho, kuat terasa. Bayangkan kuah hasil paduan rempah yang melimpah dari serai, lada, pala, daun jeruk, garam, dan tentu taucho ini , disatukan dengan bumbu uleg seperti bawang merah, bawang putih, cabe merah,sehingga tercipta kuah yang luar biasa, dan disajikan dengan isian berupa soun, daging, bawang merah goreng, daun bawang, dan tambahan sambel merah tersaji panas di depan anda, dan tentu saja padanan yang lebih tepat adalah lontong, dipastikan akan memanjakan lidah anda sebagai penikmat kuliner. Nyem....nyem....nyem... “Ada banyak jenis taucho, Iki taucho nomor siji, asli dek Pekalongan” begitu Pak Lukman berkomentar, tentang taucho yang dicampurkan pada tautonya. Konon Pak Lukman sudah punya suplier tetap untuk tauconya, “Agar kualitas dan citarasa masakan tetap terjaga”. Begitu pendapatnya. Tentu yang disajikan di warung Pak Lukman Bilfaqih ini tidak sekedar tauto, megono jelas tidak ketinggalan, menu makanan khas Pekalongan ini adalah lauk yang berbahan baku utama nangka muda, yang di Pekalongan dikenal dengan nama “gori” , dicampur parutan kelapa dalam bentuk urapan, tentu urapannya ditambahkan rempah, ada irisan serai dan ini...... combrang, sehingga menghasilkan “taste” yang sangat khas, agak pedes, ada semacam rasa “mint”, orang Pekalongan sering mengistilahkan dengan semriwing. Di kota Pekalongan lauk ini sangat dikenal sebagai menu sarapan utama dengan nasi yang masih kemebul dan tambahan tempe, telur atau kadang gereh peyek, puluhan bahkan ratusan pedagang segomegono dapat anda jumpai terutama di pagi hari, tersebar di saentero kota Pekalongan. Di Tauto Pekalongan Nino sendiri, segomegono disajikan dalam bentuk komplit, nasi, megono, balado telur, orek-orek tempe, ikan asin, lodeh bongkrek, dan lalap. Konon menurut Lukman, ikan asinya ‘diimport’ langsung dari Pekalongan. “Ikan asin Pekalongan itu berbeda, dengan ikan asin yang ada di Jakarta, ikan asin Pekalongan tidak terlalu asin, jadi tepat disajikan bersama dengan segomegono” begitu pendapat Pak Lukman, bapak berputra 3 orang ini. Bagaimana taste makanan special ini, orang Pekalongan akan bilang “Enak e Yoo, Sak poree raa”, yang berati sedap luar biasa, begitu Achmad Mubin pelanggan setia Lukman Bilfaqih berkomentar tentang segomegono Pak Bilfaqih saat beserta keluarganya ditemui sedang makan bersama di Tauto Pekalongan Nino. Gorengan lain yang disertakan sebagai pilihan penyerta menu utama adalah tahu isi dan tempe mendoan. Tempe yang dipotong tipis dicampuran tepung terigu/tepung beras dan irisan halus daun bawang di goreng dalam kondisi agak basah ini, disajikan dalam kondisi hangat, tentu tak tertinggal disajikan juga cabe rawit hijau yang segar sebagai penyerta.Satu lagi yang istimewa, Cucut... ya…ikan cucut yang dikukus lalu dipanggang panas, dipenyet dengan sambal terasi dengan rasa gurih pedas, ini menghasilkan cita rasa yang berbeda terutama bagi anda penyuka tempe penyet atau ayam penyet. Biasanya menu cucut di warung Nino ini disatukan dengan sayur asem plus tempe. Konon untuk terasinya didatangkan khusus dari kota Batang. Cucut nya bukan sembarang cucut “iki cucut", bukan ikan pari yang umum ada di pasaran Jakarta, kalau ikan pari kadang sering tercium aroma yang kurang sedap, tapi cucut dari Pekalongan ini pancen apik dan segar”, begitu Lukman yang mantan pekerja di beberapa penerbitan terkemuka di Jakarta ini menjelaskan tanpa bermaksud promosi berlebihan mengenai pilihanya menggunakan ikan cucut dari Pekalongan. Masih ada lagi yang khas...? unsur tintanya, sehingga menu tersaji berwarna hitam pekat. Sambil bergurau Pak Lukmanfaqih mengatakan “orang Pekalongan menyebutnya masakan blekutek”, soal rasa Sotong di sini bener – bener Sedep dan Nendang. Ada 17 sajian minuman yang ada di daftar menu, menikmati sajian teh poci lokal sambil bergurau dengan pemilik rumah makan ini terasa nyaman, sehingga suasana ngobrol pun berjalan lancar. Teh Poci disajkan panas dalam poci dan cangkir tanah liat, dimana disertakan gula batu dalam sajian yang terpisah. Ada juga teh poci import, teh poci racikan khas ala Tauto Pekalongan Nino ini, ternyata ada beberapa ragam, misal “Early Grey”, “Pure Peppermint” dan banyak lagi. Kalau ingin rasa minuman yang lebih kuat, anda boleh mencoba Kopi Bumbu, yang konon dalam istilah arab dikenal dengan nama Zanzabil, ini adalah minuman campuran dari kopi jahe + kapulaga (India) + kayu Manis + Sereh + Gula jawa. Rumah makan Tauto Pekalongan Nino konon dimulai dari hasrat istri pak Lukman tercinta, Aisyah Hussein yang mantan Ibu Guru Bimbingan Penyuluhan sebuah SMA di Gambir Jakarta ini untuk bertemu dan kangen-kangenan suasana Pekalongan, dan hasrat itu saat ini terpenuhi. Banyak silaturahmi orang pekalongan ternyata bermula dengan kenal di Tauto Pekalongan Nino ini. “Lha sesame Kajangan be kadang yo ora saling kenal, dadi nembe kenal setelah sama sama mampir ning ngene” begitu komentar Pak Lukman yang mantan pengusaha toko batik di beberapa bilangan wilayah di Jakarta ini Bisa jadi anda akan ketemu warung tauto atau segomegono hampir di setiap sudut jalan Pekalongan, tapi makan segomegono dan tauto kampung halaman di Jakarta ?, sensasi nya itu lho lhur.......,Anjut ah....lebih “Pekalongan” dari di “Pekalongan”, Jadi kalau mampir jakarta, jangan lewatkan Rumah Makan milik askarloers khas Pekalongan ini di depan pasar PSPT Tebet, mau catat alamatnya ? ini alamatnya, jalan Tebet Timur dalam raya No 3 jakarta Selatan.
Salam Kuliner Pekalongan |



Kangen “ngomah” Pekalongan ?, atau ingin bernostalgia dengan suasana Pekalongan di Jakarta ?.
Comments
Aku salut dengan Pak Lukman dan berterima kasih sudah menjaga suasana Pekalongan di Jakarta. Tapi kalo dari sudut "rasa" ... Tauto-nya Pak Lukman jauh dari stadar. Kalo megono-nya masih asetebel-lah. Menurut bincang - bincang dengan Beliau, memang ada modifikasi standar tauto. Secara default, Tauto bukan makanan sehat (Tapi sangat enak), apalagi di padu dengan jeroan dan lemak ... waduh ini killing punch buat forty plus community.
Di satu sisi, Pak Lukman mencoba meminimalisir kadar bahaya dalam tauto, sebaliknya upaya tersebut mengorbankan aroma dan ketauto-an sang tauto. Tampaknya dunia ini senantiasa tidak sempurna dan kesempurnaan barangkali sengaja tidak dihadirkan di dunia ini. Atau kita belum tahu dimana adanya
salam Tauto
RSS feed for comments to this post.