| Pondok Makan Pring Wulung Pekalongan |
|
|
|
| Written by Administrator |
| Sunday, 21 February 2010 20:36 |
|
”Selama ini kami yang tergabung dalam wadah Askarlo kalau akan membuat dan membahas rencana acara ataupun program Askarlo selalu berpindah-pindah tempat, dari warung satu kewarung lainnya, dari café satu kecafe lainnya, dari rumah satu kerumah lainnya seperti kelompok nomand (= pengembara) atau nomadism (= mengembara, berkelana), akhirnya timbul keinginan membuat tempat yang tetap sekaligus produktif yaitu membuat Café”. Begitu kata Pak Haji Falah memberi penjalasan niat awal mendirikan unit usaha rumah makan, saat berbincang ringan dengan nya. Berangkat dari ide inilah rekan-rekan Askarlo Pekalongan, membagi penyertaan modal bersama dan sepakat meminta Pak Haji Falah menjadi manager di Pondok Makan PringWulung. ”Modal awal Rp 76.500.000,- kita bagi sesuai kemauan dan kesedian rekan untuk nguruni, terkumpul beberapa rekan seperti sebut, Tejo, Norma Ariyani, A. Halim, Budi Hanoto, Intan, H. Subarno, Wibisono, Supriyadi dan Rosichun Os”l. Demikian lebih lanjut Pak Falah menjelaskan dengan menyebut nama-nama rekan yang tergerak untuk ikut penyertaan modal. Ide awalnya memang membuat sebuah cafe, tapi akhirnya yang siap dihadirkan untuk warga Pekalongan adalah sebuah pondok makan, tentang perubahan gagasan ini Pak Falah berujar : ”Sebab kalau Cafe (untuk ukuran Pekalongan) pengunjungnya sangat terbatas dan hanya orang-orang tertentu saja yang mau masuk ke Cafe, sedangkan saya maunya semua kalangan bisa masuk, seperti remaja, dewasa, orangtua, sendirian, berdua, Kyai, Ustadz, rombongan atau sekeluarga, jadi tidak canggung dan kesannya kalau malam pergi ke Pondok Makan nampaknya pantas dan kesannya positip dibanding malam pergi ke Cafe nampak seperti kurang pantas (tapi ini hanya kesan pribadi saja)”. Akhirnya dipilihlah nama Pondok makan Pring Wulung, sebuah nama yang unik. Pring Wulung sendiri adalah nama jenis Bambu, nama PringWulung sendiri konon diambil dari repotnya mencari PringWulung saat pembuatan Angkruk (tempat terlindung untuk duduk terbuat dari bambu), nama yang unik, nama yang akrab didengar, nama yang terasa jawa, dekat dengan alam, dan mudah diingat. Menunya..? Ketika kami bertanya ke Pak Falah, Apa yang jadi menu andalan Pondok makan Pring Wulung ? Pringwulung memang menyediakan menu, cara penyajian, dan kualitas makanan yang berbeda dari kebanyakan cafe atau rumah makan lain di Pekalongan. Paduan Cafe dan pondok makan serta pilihan menu yang beragam adalah nilai jual yang bisa dicoba para penikmat kuliner ketika berkunjung ke Pekalongan. Pengunjung Cafe Atrium – Pekalongan tentu berbeda dengan pengunjung pindang tetel Masduki, tapi pengunjung dua tempat yang berbeda ini bisa dipenuhi dan dimanjakan di Pondo Makan PringWUlung, menu yang beragam jelas tidak membosankan, beberapa orang yang ”agak enggan ” ke cafe pun, bisa ikut menikmati makan malam bersama tanpa segan disini, apalagi saat malam hari, pondok Pringwulung pun bisa tampil dengan kesan indah dan romantis dengan cahaya lampu yang warna-warni di seputar angkruk, Pring Wulung tampil beda dibanding dengan kebanyakan tempat makan lain di Pekalongan. Meskipun diawali dengan semangat pertemanan, tapi Pondok makan Pring Wulung dikelolan dengan semangat kewirausahaan yang sungguh – sungguh Penasaran dengan Pondok Makan Pring Wulung, sebagai ikon baru kuliner Pekalongan ? ini alamat nya : Jika anda datang di bulan February 2010 ini, Pondok makan PringWulung memberi potongan harga 10 %.
|



Menyebut nama kota Pekalongan, kita selalu akan teringat batik dengan sentra Batik Setono nya. Berbicara kuliner Pekalongan, kita akan menyebut Tauto dan Megono. Bicara lokasi kuliner ala Pekalongan kita akan menyebut Soto Tjarlam dan Pindang tetel Masduki. Hanya itukah kuliner Pekalongan ?. Rasanya saat ini kita harus menambahkan lagi ikon baru di peta kuliner Pekalongan . ”Pondok makan PringWulung”, satu pondok makan yang digagas hasil kumpul-kumpul warga Askarlo – Pekalongan.